Pada tahun 2013, Indonesia mendapatkan kehomatan sebagai
tuan rumah dalam serangkaian agenda rutin APEC yang akan diadakan di Bali.
Tentu kesempatan ini merupakan udara segar yang harus dimanfaatkan
Indonesia sebagai ajang memperkenalkan lebih mendalam mengenai potensi di
negeri ini di mata dunia.
Kini, Indonesia menjadi sorotan berbagai negara, 20 negara
yang tergabung dalam kerjasama ekonomi Asia-Pasifik, yaitu APEC.
Tak dapatkah kita merasakan eforia tersebut?
Atau malah kita minim
wawasan akan hal ini?
Jangan-jangan banyak masyarakat Indonesia yang tidak
mengetahui apa itu APEC atau mengenai keikutsertaan Indonesia dalam kerja sama ini.
Padahal hal ini merupakan kesempatan Indonesia untuk berkembang di bidang
ekonomi dalam kancah international dan alangkah baiknya masyarakatnya sendiri
turut serta dalam berbagai kalangan.
APEC ialah Asian Pasific Economic Coorperation. Sebuah upaya
kerjasama di bidang ekonomi antara negara-negara di Asia Pasifik yang bergabung
menjadi anggotanya.
APEC didirikan pada tahun 1989 di Canberra, Australia, yang
pada saat itu hanya terdiri dari 12 negara, termasuk Indonesia.
Kini, APEC terdiri dari 21 negara, diantaranya adalah
Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chili, China, Jepang, Korea Selatan,
Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Papua Nugini, Peru, Filiphina, Rusia,
Singapura, Thailand, Amerika, Vietnam, Taipei.
Ke 21 negara ini bekerja sama dengan tujuan meningkatkan
perdagangan bebas di kawasan Asia Pasifik. Agar tercapainya tujuan ini,
dilakukan pengurangan tarif perdagangan dan menghilangkan penghalang bagi
perdagangan bebas.
APEC juga turut menfasilitasi kegiatan bisnis, diantaranya dalam
pertukaran informasi perdagangan dan
hubungan antara eksportir dan importir.
Sebenarnya dengan kehadian APEC, seolah-olah gerbang
liberalisasi dalam perdagangan telah dibuka. Walaupun hanya beberapa negara,
namun 44% perdagangan dunia didominasi oleh negara-negara anggota APEC. Dengan
adanya keistimewaan tersebut dalam perdagangan antara 21 negara ini tentunya
para investasi asing jauh lebih mudah masuk ke dalam negeri, pintu importir
asing ke dalam negeri pun juga demikian.
Disamping itu, perlu kita ingat. Ini pun juga berlaku untuk
Indonesia. Seharusnya, melalui keikutsertaan dalam APEC, Indonesia dapat
memanfaatkan pula sebagai gerbang keluar produk-produk dalam negeri menglobal
di pasar yang lebih luas, Internasional.
Seiring berjalannya APEC, selalu diadakan kegiatan rutin
pertemuaan sebagai komunikasi dalam pencapaian visi misi dan keberlangsungan
kerjasama ini. Dari berbagai rangkaian kegiatan rutin itu, salah satunya adalah
APEC CEO Summit.
APEC CEO Summit ini merupakan pertemuaan yang didalamnya
terdapat dialog interaktif antara pembuat kebijakan (APEC leaders) dan para pelaku bisnis (Global CEO’s di Asia Pasifik)
yang membahas isu prioritas yang dihadapi di sektor bisnis agar tecapainya
pertumbuhan berkelanjutan bagi semua anggotanya.
APEC CEO Summit ini diselenggarakan oleh APEC business advisory council (ABAC). ABAC
terdiri dari institusi swasta yang ditunjuk langsung secara resmi oleh pemimpin
pemerintahan negara-negara APEC itu sendiri.
Setiap negara anggota APEC
memiliki 3 pemimpin bisnis yang tergabung dalam ABAC. Itu berarti terdapat 63
anggota dalam ABAC International.
Mereka berperan pula dalam mengidentifikasi permasalahan dan
memberikan masukan yang perlu diutamakan di sektor bisnis untuk terbentuknya
kebijakan yang lebih efektif dan kerjasama yang erat.
Itu berarti, tidak hanya pemerintahan negara saja yang bergerak
dalam lingkaran bisnis pada upaya kerjasama ini. Turut pula delegasi-delegasi
dari sektor bisnis, selaku pihak yang berkegiatan dalam dunia bisnis andil
dalam pembentukan kebijakan kerjasama ini. Lalu bagaimana dengan masyarakat
dalam negara itu sendiri. Tentulah berperan serta dalam laju perekonomiaan
bangsa itu sendiri.
Masyarakat menengah
juga turut mewarnai dunia ekonomi Indonesia. Sering pula dipublikasikan oleh
media sebagai bahan inspirasi untuk masyarakat mengenai para wirausaha mandiri
yang mengekspor produk-produk mereka ke berbagai negara, salah satunya produk kerajinan
tangan.
Sebagai masyarakat Indonesia, perlu kita memperluas wawasan
kita dan ‘melek’ akan bangsa ini. Begitu banyak potensi bangsa kita ini,
misalnya saja dalam bidang pariwisata, sumber daya alam, dan kebudayaan. Maka
dari itu, Indonesia memiliki potensi yang besar sebagai negara pengekspor.
Ketika seluruh lapisan masyarakat turut serta dalam kegiatan
bisnis yang dapat mengembangkan perekonomiaan negara, khususnya dalam kegiatan
ekspor, tentu hal ini dapat memberikan dampak baik bagi Indonesia. Ditambah
keikutsertaan Indonesia sebagai anggota APEC, seharusnya Indonesia lebih mudah
dalam penyebaran dan pemasaran produk dalam negeri ke luar negeri.
Tahukah kalian apa penyebab nilai rupiah jatuh? Salah
satunya karena peredaran dolar berkurang akibat minimnya kegiatan ekspor. Itu
berarti, kegiatan ekspor memiliki andil penting dalam mata uang negara
ini.
Tidak hanya itu, jika dicermati sektor perekomian pun
mempengaruhi berbagai aspek negara. Semakin banyak kegiatan bisnis, berupa wirausaha,
dilakukan oleh berbagai pihak semakin banyak pula tenaga kerja dibutuhkan. Itu
berarti aspek kesejahteraan masyarakat pun meningkat.
Lalu, apakah pembahasan ini hanya berlaku untuk pihak yang
bergerak di dunia bisnis saja? Jawabannya adalah tidak. Bagaimana dengan
generasi muda. Generasi inilah yang patut diperhitungkan pula keikutsertanya dalam
dunia perekonomian negara.
Rasanya terlalu dini ketika membayangkan generasi muda yang
dimaksud adalah anak-anak dalam kisaran umur 10 -17 tahun. Generasi muda
memiliki pengertian yang luas dengan mencakup berbagai kisaran umur pada fase
peralihan anak. Tapi yang dimaksud generasi muda dalam konteks ini yaitu para
pemuda di Indonesia.
Jika kita menoleh kebelakang, generasi muda khususnya
pemuda, turut menoreh cerita dalam bangsa ini. Pergerakan pemuda dalam memperebutkan
kemerdekaan, peristiwa penting di negeri ini pula ketika penurunan rezim
pemerintahan dan juga berperan mengharumkan nama Indonesia dengan
prestasi-prestasi yang dicetaknya.
Generasi mudalah yang akan menggantikan pemimpin-pemimpin
bangsa ini, termasuk yang akan mengisi posisi penting di dunia bisnis
Indonesia.
Seharusnya, Indonesia tidak melupakan peranan penting para
pemuda termasuk sampai detik ini. maka dari itu tidak ada alasan untuk tidak
melibatkan pemuda dalam persoalan ini, yaitu keterlibatan Indonesia dalam APEC
dan momen penting Indonesia sebagai tuan rumah pada rangkaian acara rutin APEC
2013.
Pada momen ini, seharusnya pemuda dilibatkan dalam acara
APEC 2013. Mungkin, banyak yang berpikir pemuda bukanlah tokoh utama bahkan
tidak berperan. Tapi jika kita perhatikan, justru momen APEC 2013 ini dapat
dijadikan sebagai pembelajaran pada generasi muda Indonesia. Dimana momen ini
sebagai edukasi dan keterbukaan pemikiran generasi muda akan peduli ekonomi.
Seharusnya, karakter pemuda yang berenergi, kreatif, dan inovatif dapat
memberikan sudut pandang berbeda dan menjadi tambahan masukan mengenai
perekonomian bangsa Indonesia.
Tidak hanya sebatas itu, harus adanya program keberlanjutan
yang dibentuk oleh pemuda itu sendiri setelah keterlibatannya dalam momen ini.
Pemikiran segar jiwa pemuda dikombinasikan dengan wawasan
seusai keterlibatan mereka di APEC 2013 dapat dijadikan bekal awal dalam
pengamalan di masyarakat.
Generasi mudalah yang seharusnya turut mendorong masyarakat
kecil dan menengah untuk terus berwirausaha dengan ide-ide inovatif mereka
sehingga tercipta wirausaha kreatif.
Tidak hanya sebagai pendorong tetapi dari dinilah generasi
muda diperkenalkan dan diajarkan menjadi wirausahawan sehingga mereka pun bisa
jadi perintis dan memperdayakan masyarakat dalam proses produksi.
Tentu hal tersebut tidak mudah, tapi kita patut optimis dan
mencoba. Pastilah mempergerakan banyak pihak akan jauh membawa dampak yang
besar dalam ekonomi Indonesia termasuk dengan memulai dari lapisan masyarakat
kecil dan menengah dengan dorongan dan peran para pemuda Indonesia itu sendiri.
Harapannya generasi muda dapat menjadi motivator dalam
masyarakat Indonesia untuk selalu berkarya dengan berwirausaha dan memiliki
motivasi berwirausaha itu sendiri pada diri mereka masing-masing. Dan pada
ujungnya, seiring perkembangan usaha bisnis itu sendiri, diharapkan pula dapat
tumbuh berhasil tak hanya di kandang sendiri tapi juga mengaung keluar ke
negara-negara tetangga.
referensi:
www.abacindonesia-society.com
www.amazine.co/24522/apa-itu-apec-fakta-sejarah-informasi-lainnya/
www.setkab.go.id/berita-4219-abac-indonesia-siap-sukseskan-ktt-apec2013-dibali.html
tulisan ini diikutsertakan dalam ABAC writing competition, APEC CEO Summit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar