Ketika di mading terpublikasikan acara "Satu Mangrove Sejuta Harapan", aku enggak langsung bilang "Iya" untuk ikutan.
Tapi, ternyata H-1 aku memutuskan untuk ikutan acara itu. karena apa?
"Mau ikutan nanem mangrove gak?"
"Hmm.. kapan? sama siapa ajah?"
"Besok. banyak nih yang ikutan. ada anu, inu, itu, lalalalala.."
"Wew, gw ikut juga dong"
Setelah itu baru deh kepikiran, nanem mangrove itu kayak apa sih?
Well, setelah melihat twitpic event masa lampau nanem mangrove, aku berkesimpulan besok itu kita bakalan....
1. ngumpul di kampus
2. perjalanan rame-rame sampe pantai tujuan
3. nanem cantik deh di pinggir pantai, uhuy...
Besok itu adalah misteri.
enggak ada satupun makhluk tuhan yang tahu seperti apa besok itu.
dan besok itu adalah hari dimana kesotoyanku, praduga-praduga manusia lainnya tentang hari esok itu terbukti ataupun ditempis.
Ternyata, Besok itu adalah
Eng Ing Eng...
Berasa minum Shocking Soda terus nelen mentos!
Gila! gratis mandi lumpur men >.<
terus pengeringan ekstra alami dari sinar matahari langsung.
seusainya, dapet bonus terapi kaki (berjalan tanpa alas) di siang hari men.
Dimana lagi dan kapan lagi coba bisa dapet perawatan tubuh alami ini hanya dengan 10ribu.
Hehehe, intinya bukan itu sih. Sebenarnya satu hal yang didapet dari memori ini adalah...
Manusia itu terlalu banyak menuntut, mau ini mau itu, pembangunan dimana-mana.
Lalu mengeluh,
"Duh, panas banget!"
"Iiih, hujan mulu."
"Banjir mulu, kayak udah langganan koran, rutin!"
Tahukah kamu? dalam perjalanan penanaman mangrove ini, dibagian pinggir pantai, terdapat tumpukan sampah yang entah asalnya dari mana. tapi intinya bermuara di pantai ini. sampah-sampah itu tersangkut di pohon-pohon magrove kecil yang telah ditanam jauh sebelum kedatangan kami.
Menanam mangrove itu enggak seberapa, bahkan mungkin gak berarti kalau sekumpulan manusia, yang terdiri dari diri kita sendiri, gak mau membiasakan diri untuk peduli lingkungan.
BUKAN "apa yang sudah lingkungan berikan untuk saya?"
tapi "APA YANG SUDAH SAYA BERIKAN UNTUK LINGKUNGAN?"
Jadi, ubah yuk kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan, atau hal kecil lainnya yang merusak lingkungan.
Di akhir acara, seorang bapak bernama Pak Masruri, salah satu pengerak penanaman mangrove di pantai mangkang ini, sedikit bercerita di depan kami semua mengenai perjalanan pergerakan penanaman mangrove di pantai ini.
Ternyata kegiatan ini sering dilakukan oleh berbagai pihak termasuk mahasiswa, pecinta alam. Bahkan perusahaan rokok lebih banyak mendukung kegiatan positif di pantai ini, sedangkan antusias dan dukungan pemerintah akan hal ini malah kurang. Wah, tetap semangat ya Pak!
Oh,iyah! Aku baru sadar di akhir acara, ternyata yang berpartisipasi dalam acara jurusan ini juga diikuti oleh berbagai mahasiswa dari berbagai biro dijurusan. Satu Mangrove Sejuta Harapan ini seolah merangkul teman-teman yang lain, yang enggak hanya "dia lagi dia lagi".
Acara ini bukan milik himpunan, bukan milik salah satu biro jurusan, bukan milik si ketua pelaksana.
Tapi aku merasakan kalau acara ini acara kita semua, satu jurusan :)
Walaupun gak semua mahasiswa di jurusan ikutan sih, tapi merasa terwakilkan ajah sama kehadiran kamu, kamu, kamu, kamu, kamu, yaa..kita semua deh, hehe..
WOW, KALIAN HEBAT!!!
sumber foto:
bagian dokumentasi acara yang di publish di socnet



