Selasa, 28 Februari 2012

Dit, Combronya Enak!

combro versi aku dan Dita :)
Judul di atas merupakan kesan pertama aku bikin combro pertama kali bersama temanku, Dita dan kakaku sebagai instuktur masakan . Sebenarnya combro itu singkatan dari oncom di dalam,makanan orang Jawa Barat, yah bisa dibilang makanan khas daerah itu. Oncom itu makanan dari parutan singkong melapisi agak tebal kumpulan oncom yang terkadang diselipi potongan cabe ijo, sluurrrp. Digoreng dan dinikmati ketika masih panas, fresh from fan-lah.
Tapi, di suatu hari yang memang telah kami (aku dan Dita) rencanakan sebelumnya, kami membuat combro tanpa oncom, dan kekeh masih menyebutnya combro. hehe peace!
“Lah, isinya apa? Angin?”
Kami, eh sebenarnya Dita dan kaka mengusulkan mengganti isinya dengan kornet, huaaa, yummy. Check this out for recipe!!
Bahan:
-          Singkong yang sudah diparut (seseuai selera, tapi kami waktu itu ½ kg)
-          Daun bawang, potong kecil-kecil (secukupnya aja)
-           Garam dan sasa
-          Kornet
-          Cabe rawit, potong sesuai selera (kalau berminat bikin satan combro enggak perlu dipotong-potong kecil,hehe)
-          Minyak goreng
Sempet berkeinginan nambah potongan keju untuk tambahan isinya (bayangin: ada lelehan keju meluap ketika tuh combro yang sudah matang terbelah), tapi apa daya combro yang satu ini udah mengocek lebih uang kami, jadi...
“Terus lo apain tuh bahan-bahan?”
no.3
1.       Kita campur parutan singkong, daun bawang, garam 1 sendok makan kurang, 1  sendok teh sasa  dalam wadah.
2.       Kita goreng kornetnya sampai matang, dengan minyak yang enggak banyak.
3.       Letakan singkong di telapak tangan, melebar pipih. Lalu letakan kornetnya di tengah + cabe rawitnya.
4.       Terus, kita ratakan adonan parutan singkong menyelimuti isinya.
5.       Setelah semua adonan berubah jadi bayi-bayi combro, kita goreng deh.
Entah kesambet apa, tapi waktu itu kami membuat bentuk combro yang enggak seperti biasanya. Bulat ajah dan jauh lebih kecil padahal umumnya bulat lonjong. Ampun mbah, udah merubah-rubah nih oncom! enggak ada peraturannya enggak boleh kan ya? Sebagai manusia, makhluk yang suka dihampiri rasa bosan, inovasi itu butuh lagi.
Kriiuuk kriiiuukk kriiuuk, itu sensasi yang terasa ketika gigitan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Aku sih merasanya combro kali ini agak berbeda dari biasanya yang aku cicipi, mungkin bentuk yang kecil ini membuat jadi lebih garing di keseluruhannya. 
Combro satu caplok atau satu lahapan ini terserah dapet penilaian apa dari fotonya, tapi kami as cooker  mengatakan success, yeah!!
Jangan mau jadi penonton ajah, coba deh!!



Jumat, 24 Februari 2012

Around-Around Goes To Kota Tua, Jakarta

  
Aloha, readers!!
Kalau mendengar kata ‘sejarah’ yang bakal muncul di wajah kita tampak seperti apa? Tampak seperti inikah (-__-) atau ini (T.T) dengan alasan yang terbayang pertama itu buku pelajaran sejarah dengan tanggal-tanggal penting yang kudu dihapalin untuk ujian sejarah, kah?
Tapi ternyata oh ternyata, cara mempelajari sejarah itu tidak harus di depan buku, duduk manis di meja belajar dengan stabilo terang untuk mark sesuatu yang penting. Dan sejarah itu bukanlah sesuatu yang hanya dipelajari untuk yang sedang duduk di bangku sekolah aja.
Aku perkenalkan (mana suara drumnya?)drung drung dung dung dung Hang Out ke Tempat Bersejarah.
 “halah kalau itu gw juga udah tau, basi dan biasa!”
“Well, tapi udah mencobanya belom?” setelah itu hening
Just share my experience. Suatu hari dalam liburan, aku dan teman-temanku pergi ke Kota Tua di Jakarta (FYI:kota tua ada dimana-mana,juga ada di Semarang loh). Transjakarta memang memudahkan untuk kesana, karena halte terakhir transjakarta yang kami tumpangi itu Kota itupun hanya mengocek 3500 saja.
Tidak heran namanya Kota Tua, disana memang banyak bangunan-bangunan tua dengan style yang jauh dari kata modern. Asiknya, tempat ini agak rame, banyak jajanan dan penjual cinderamata, jadi bisa dibilang memang tempat rekreasi gitu deh, So,bukan sekedar bangunan-bangunan jadul penghias penglihatan orang-orang yang berlalu lalang saja.
Hehehe, sayangnya kami berkunjung tepat di hari besar islam (liburan membutakan tanggal) jadi museum-museum yang berdekatan di area ini tutup deh, padahal aku excited sekali pertama tahu ada Museum Wayang.
Tiba-tiba, Plecccaaak suara lecutan terdengar mengelegar di telingaku, kami datangi kerumunan di lapangan luas, depan Museum Fatahillah. “Oh, ternyata kuda lumping” menarik tapi sedikit terlihat sadis dimataku. Sayang, enggak aku foto ;p. Wah, bayangan menyeramkan muncul di kepalaku ketika membayangkan yang dipecut wajahnya itu aku, hiiii.
Walaupun, beberapa museum tutup tapi bukan berarti melewatkan sejarah yang ada di kota ini. Rentetan sepeda beraneka warna berjajar rapi di lapangan yang luas, seorang laki-laki pengelola menawarkan jasa tour guide plus sepeda sewaan yang unyu-unyu. Bongkar harga ah, Tour guide: 30.000 rupiah/rombongan dan rental sepeda+topi yang enggak kalah unyu:30.000rupiah saran sih,satu sepeda dua orang aja,lebih ekonomis kan bagi dua.    
“kasian dong yang goes-goes?”
“itu sih DL” hahaha
Wow, betapa takjub kami waktu singgah ke pelabuhan termansyur pada waktu itu, Pelabuhan Sunda Kelapa, yang sering disebut-sebut di buku sejarah itu kini ada di hadapan kami. Untuk yang suka hunting foto, tempat ini wajib masuk list. Tapi untuk yang sukanya di-hunting, “ Pak Guide, ehem hoek fotoin kita dong”
Tidak hanya itu, kalau dihitung-hitung ada 3 spot yang kami kunjungi, Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari, Jembatan Intan yang biasanya digunakan orang-orang untuk foto pra wedding yang tepat berada di atas Sungai Ciliwung.
Kisah-kisah dan sejarah mulanya diceritakan oleh sang guide di tiap tempat, tiba-tiba terangkailah imajinasi visualisasi dari lontaran ceritanya di kepalaku.
Untuk yang  dari jauh-jauh ke Jakarta, harus coba berkunjung ke Kota Tua dan untuk yang stay di Jakarta tapi seringnya hang out ke mall-mall ajah coba deh sekali-kali ganti pijakan kaki ke tempat ini. Jangan lupa, jajan juga disana, gerobak es potong di beberapa spot bener-bener mengundang kita untuk membelinya, dengan harga 2000rupiah saja seolah-olah mau meredupkan teriknya matahari di siang hari. Ada juga kerak telor, makanan khas betawi. Dan sedikit info, beli minuman botol di sana, area luar terbuka bikin mulutku mangap, karena jauh beda harganya sama minuman botol yang aku beli di minimarket di sana juga.
JASMERAH, kawan!! Perjalanan bersama kali ini seperti PDKT dengan Jakarta, tempat tinggalku yang jarang aku kelilingi, mengenal lebih dekat saja seperti menemukan serpihan kecil identitas bangsa. So, udah ada do list untuk liburan kalian berikutnya nih kayaknya ,hehe.

Kamis, 23 Februari 2012

Kemana Minat Baca lo?!

“Hayoo, dijawab kemana minat bacanya?”
“Kemana apanya? Lah, dengan baca blog ini ajah menunjukan kalo gw punya minat baca,kan?”
Hmmm... tapi sadar enggak sih kalau minat baca orang-orang disekitar kita, masyarakat Indonesia mungkin termasuk diri kita sendiri kurang minat sama kegiataan ini. Coba ajah dihitung-hitung udah ada berapa karya sastra yang udah kita baca. Hahaha, ayo ngaku! Ups, apa aku mungkin salah orang nih (yang lagi baca ini orang yang hobbi baca).
“Kalau gitu jangan panjang-panjang dong tulisan blognya, udah tau gw kurang hobi membaca”
“Ok deh Bos!”, jawab si penulis blog.
Sekedar mau berbagi tips ajah untuk yang satu ini, here there are!
Harus dimulai dari mana, bu? Dimulai dari hal-hal yang kita suka, yang sesuai sama diri kita. Jadi jangan heran kalau bapak kita suka baca koran dan kita enggak. Kalau kita suka bacanya komik, yah (mulailah dengan) baca komik, bukannya memaksakan diri untuk baca novel berat yang tertulis international best seller.
Ok, kalau begitu seumur hidup gw enggak akan baca buku novel yang tebel-tebel dong,kan gw enggak suka ama yang tebel-tebel”.
Ini baru tips awal. Yang dimaksud yang kita suka itu bahan bacaannya bukan kriteria fisik kelihatan bacaannya. Namannya juga baru memulai, yah pilihlah bacaan yang ringan-ringan ajah dulu, seperti majalah. Setelah itu novel (enggak harus novel sih) tapi dengan genre yang kita suka, walau agak tebal tapi pilih yang cara penulisannya ringan, jadi malah kita terhanyut membaca. Atau bisa juga buku pengembangangan diri. Yang tadi itu kurang lebih contohnya seperti itu. And i believe we have own way, step to step- nya lah.
Don’t  judge the book from the cover. Saking gak sukanya sama buku, liat covernya ajah udah eneg,hehe. Sama halnya dengan kita yang enggak suka di-judge sama orang lain tiba-tiba, begitupun buku. Tapi bedanya buku itu punya resensi di bagian belakang. Coba dicari tahu dulu, itu buku tentang apa, sesuai enggak sama hal yang kita suka. Yah, salah satu PDKT ini melalui baca resensinya.
Sebuah buku berjudul Don’t Sweat The Small Stuff di salah satu babnya menuliskan sebuah tips, cukup 1 hari 8 lembar saja, maka kau akan terkejut sudah berapa lembar yang kau habiskan selama 1 tahun. So, nikmatin ajah kegiatan membaca itu. Kalau baca novel yang beratnya sebayi gajah, ya dicicil ajah, enggak ada paksaan untuk langsung menelan habis bacaan dalam sekali buka bukunya kan.
That’s all about reading interest tips. Jangan hanya dibaca aja tapi dilaksanaain.
“Kenapa sih lo ngajak kita banget buat meningkatkan minat baca?”
“Banyak manfaatnya kok, coba dirasakan manfaatnya dengan rajin membaca atau cek ajah di beberapa buku (salah satunya La Tahzan),  ada kok yang menuliskan keuntungannya” ;D
P.S tips untuk meningkatkan minat baca ya baca tips diatas! Sekarang udah minat?

Ada Buku Menarik Rik Rik Nih!!


Sayang kalau usai membaca buku hanya disimpan cerita dan ilmunya saja. So, ada baiknya kalau share pendapat tentang buku-buku menarik yang udah aku baca akhir-akhir ini, yah bisa dibilang resensi buku versi gue. Enggak kalah sama sastra luar negeri loh, national best seller yang berjudul Negeri  5 Menara ini adalah sebuah karya  Ahmad Fuadi. Awalnya aku kaget, nama sang penulis tertera A.Fuadi di sampul bukunya, kenapa? Karena  aku kira Anwar Fuadi yang bikin novel tersebut ternyata bukan, hehe.
 Novel non fiksi yang terinspirasi dari perjalanan hidup sang penulis ini menceritakan kehidupan seorang anak Minang bernama Alif Fikri. Awalnya bocah ini ingin sekali melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Menengah Atas tapi apa daya ketika seorang Emak ingin menyekolahkan anaknya di sebuah madrasah aliyah, sekolah agama setingkat SMA.    
Cerita yang juga berlatar belakang di sebuah pondok ini sangat mengubah paradigmaku mengenai sekolah di pondok. Aku malah terkagum dengan cara pengajaran dan penerapan pembelajaran dua bahasa asing di pondok ini.
Aku yakin semua orang memiliki cita-cita, begitupun dengan Alif dan teman-temannya di pondok. Man Jadda wajada! Inilah bacaan yang dapat menstimulan diri kita untuk mencapai cita-cita. Anggap saja bak motivator. Kata-kata mutiara dan inspiratif menghiasi lembar-lembar di novel tersebut.  Kalau kataku bisa dibilang bagus untuk suplemen diri deh, yang ini berbeda bukan berbentuk tablet tapi suplemen jiwa berbentuk buku.  Tak hanya optimisme dalam mengapai cita-cita, tapi juga pertemanan dan keiklasan. Intinya banyak hikmahnya yang bisa di tik tik petik lah, Ching.
Penilaian itu kan relatif kawan, iya kan? Kalau begitu apa pendapatmu? aku juga mau tahu dong pendapatmu, tentunya setelah membaca novel ini ya, hehehe (dibacanya agak maksa deh,ngi!)