Aloha, readers!!
Kalau mendengar kata ‘sejarah’ yang bakal muncul di wajah kita tampak seperti apa? Tampak seperti inikah (-__-) atau ini (T.T) dengan alasan yang terbayang pertama itu buku pelajaran sejarah dengan tanggal-tanggal penting yang kudu dihapalin untuk ujian sejarah, kah?
Tapi ternyata oh ternyata, cara mempelajari sejarah itu tidak harus di depan buku, duduk manis di meja belajar dengan stabilo terang untuk mark sesuatu yang penting. Dan sejarah itu bukanlah sesuatu yang hanya dipelajari untuk yang sedang duduk di bangku sekolah aja.
Aku perkenalkan (mana suara drumnya?)drung drung dung dung dung Hang Out ke Tempat Bersejarah.
“halah kalau itu gw juga udah tau, basi dan biasa!”
“Well, tapi udah mencobanya belom?” setelah itu hening
Just share my experience. Suatu hari dalam liburan, aku dan teman-temanku pergi ke Kota Tua di Jakarta (FYI:kota tua ada dimana-mana,juga ada di Semarang loh). Transjakarta memang memudahkan untuk kesana, karena halte terakhir transjakarta yang kami tumpangi itu Kota itupun hanya mengocek 3500 saja.
Tidak heran namanya Kota Tua, disana memang banyak bangunan-bangunan tua dengan style yang jauh dari kata modern. Asiknya, tempat ini agak rame, banyak jajanan dan penjual cinderamata, jadi bisa dibilang memang tempat rekreasi gitu deh, So,bukan sekedar bangunan-bangunan jadul penghias penglihatan orang-orang yang berlalu lalang saja.
Hehehe, sayangnya kami berkunjung tepat di hari besar islam (liburan membutakan tanggal) jadi museum-museum yang berdekatan di area ini tutup deh, padahal aku excited sekali pertama tahu ada Museum Wayang.
Tiba-tiba, Plecccaaak suara lecutan terdengar mengelegar di telingaku, kami datangi kerumunan di lapangan luas, depan Museum Fatahillah. “Oh, ternyata kuda lumping” menarik tapi sedikit terlihat sadis dimataku. Sayang, enggak aku foto ;p. Wah, bayangan menyeramkan muncul di kepalaku ketika membayangkan yang dipecut wajahnya itu aku, hiiii.
Walaupun, beberapa museum tutup tapi bukan berarti melewatkan sejarah yang ada di kota ini. Rentetan sepeda beraneka warna berjajar rapi di lapangan yang luas, seorang laki-laki pengelola menawarkan jasa tour guide plus sepeda sewaan yang unyu-unyu. Bongkar harga ah, Tour guide: 30.000 rupiah/rombongan dan rental sepeda+topi yang enggak kalah unyu:30.000rupiah saran sih,satu sepeda dua orang aja,lebih ekonomis kan bagi dua.
“kasian dong yang goes-goes?”
“itu sih DL” hahaha
Wow, betapa takjub kami waktu singgah ke pelabuhan termansyur pada waktu itu, Pelabuhan Sunda Kelapa, yang sering disebut-sebut di buku sejarah itu kini ada di hadapan kami. Untuk yang suka hunting foto, tempat ini wajib masuk list. Tapi untuk yang sukanya di-hunting, “ Pak Guide, ehem hoek fotoin kita dong”
Tidak hanya itu, kalau dihitung-hitung ada 3 spot yang kami kunjungi, Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Bahari, Jembatan Intan yang biasanya digunakan orang-orang untuk foto pra wedding yang tepat berada di atas Sungai Ciliwung.
Kisah-kisah dan sejarah mulanya diceritakan oleh sang guide di tiap tempat, tiba-tiba terangkailah imajinasi visualisasi dari lontaran ceritanya di kepalaku.
Untuk yang dari jauh-jauh ke Jakarta, harus coba berkunjung ke Kota Tua dan untuk yang stay di Jakarta tapi seringnya hang out ke mall-mall ajah coba deh sekali-kali ganti pijakan kaki ke tempat ini. Jangan lupa, jajan juga disana, gerobak es potong di beberapa spot bener-bener mengundang kita untuk membelinya, dengan harga 2000rupiah saja seolah-olah mau meredupkan teriknya matahari di siang hari. Ada juga kerak telor, makanan khas betawi. Dan sedikit info, beli minuman botol di sana, area luar terbuka bikin mulutku mangap, karena jauh beda harganya sama minuman botol yang aku beli di minimarket di sana juga.
JASMERAH, kawan!! Perjalanan bersama kali ini seperti PDKT dengan Jakarta, tempat tinggalku yang jarang aku kelilingi, mengenal lebih dekat saja seperti menemukan serpihan kecil identitas bangsa. So, udah ada do list untuk liburan kalian berikutnya nih kayaknya ,hehe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar