Minggu, 13 Oktober 2013

The Next Destination. When?

Ini dia!! tempat yang sangat ingin aku tuju, as the next destination.
yup, Wae Rebo.

Wae Rebo terletak di Flores. daerah ini terletak di dataran tinggi dan sering dihinggapi kabut tebal. untuk mencapai ke sana juga harus menyusuri hutan-alam sekitar 3 jam.

Sketsa di atas itu adalah rumah adat di Wae Rebo. Mirisnya, rumah ini hampir punah, tapi pada suatu saat ada seorang arsitek yang tergerak untuk membantu melestarikan rumah kerucut ini atau yang disebut mbaru niang.

seharusnya rumah-rumah nusantara yang seperti ini yang menjadi perhatian mahasiswa dan arsitek-arsitek Indonesia ya. tentunya termasuk aku juga :D

I WANNA GO THERE!!

but when?
bismillah...



Minggu, 08 September 2013

Generasi Muda Pun Bisa! Turut Serta dalam Memajukan Perekonomian Bangsa

Pada tahun 2013, Indonesia mendapatkan kehomatan sebagai tuan rumah dalam serangkaian agenda rutin APEC yang akan diadakan di Bali.

Tentu kesempatan ini merupakan udara segar yang harus dimanfaatkan Indonesia sebagai ajang memperkenalkan lebih mendalam mengenai potensi di negeri ini di mata dunia.

Kini, Indonesia menjadi sorotan berbagai negara, 20 negara yang tergabung dalam kerjasama ekonomi Asia-Pasifik, yaitu APEC.

Tak dapatkah kita merasakan eforia tersebut?

 Atau malah kita minim wawasan akan hal ini?

Jangan-jangan banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengetahui apa itu APEC atau mengenai keikutsertaan Indonesia dalam kerja sama ini. Padahal hal ini merupakan kesempatan Indonesia untuk berkembang di bidang ekonomi dalam kancah international dan alangkah baiknya masyarakatnya sendiri turut serta dalam berbagai kalangan.  

APEC ialah Asian Pasific Economic Coorperation. Sebuah upaya kerjasama di bidang ekonomi antara negara-negara di Asia Pasifik yang bergabung menjadi anggotanya.
APEC didirikan pada tahun 1989 di Canberra, Australia, yang pada saat itu hanya terdiri dari 12 negara, termasuk Indonesia.

Kini, APEC terdiri dari 21 negara, diantaranya adalah Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chili, China, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Papua Nugini, Peru, Filiphina, Rusia, Singapura, Thailand, Amerika, Vietnam, Taipei.

Ke 21 negara ini bekerja sama dengan tujuan meningkatkan perdagangan bebas di kawasan Asia Pasifik. Agar tercapainya tujuan ini, dilakukan pengurangan tarif perdagangan dan menghilangkan penghalang bagi perdagangan bebas.

APEC juga turut menfasilitasi kegiatan bisnis, diantaranya dalam pertukaran informasi perdagangan dan  hubungan antara eksportir dan importir.

Sebenarnya dengan kehadian APEC, seolah-olah gerbang liberalisasi dalam perdagangan telah dibuka. Walaupun hanya beberapa negara, namun 44% perdagangan dunia didominasi oleh negara-negara anggota APEC. Dengan adanya keistimewaan tersebut dalam perdagangan antara 21 negara ini tentunya para investasi asing jauh lebih mudah masuk ke dalam negeri, pintu importir asing ke dalam negeri pun juga demikian.

Disamping itu, perlu kita ingat. Ini pun juga berlaku untuk Indonesia. Seharusnya, melalui keikutsertaan dalam APEC, Indonesia dapat memanfaatkan pula sebagai gerbang keluar produk-produk dalam negeri menglobal di pasar yang lebih luas, Internasional.

Seiring berjalannya APEC, selalu diadakan kegiatan rutin pertemuaan sebagai komunikasi dalam pencapaian visi misi dan keberlangsungan kerjasama ini. Dari berbagai rangkaian kegiatan rutin itu, salah satunya adalah APEC CEO Summit.

APEC CEO Summit ini merupakan pertemuaan yang didalamnya terdapat dialog interaktif antara pembuat kebijakan (APEC leaders) dan para pelaku bisnis (Global CEO’s di Asia Pasifik) yang membahas isu prioritas yang dihadapi di sektor bisnis agar tecapainya pertumbuhan berkelanjutan bagi semua anggotanya.
APEC CEO Summit ini diselenggarakan oleh APEC business advisory council (ABAC). ABAC terdiri dari institusi swasta yang ditunjuk langsung secara resmi oleh pemimpin pemerintahan negara-negara APEC itu sendiri. 

Setiap negara anggota APEC memiliki 3 pemimpin bisnis yang tergabung dalam ABAC. Itu berarti terdapat 63 anggota dalam ABAC International. 

Mereka berperan pula dalam mengidentifikasi permasalahan dan memberikan masukan yang perlu diutamakan di sektor bisnis untuk terbentuknya kebijakan yang lebih efektif dan kerjasama yang erat.

Itu berarti, tidak hanya pemerintahan negara saja yang bergerak dalam lingkaran bisnis pada upaya kerjasama ini. Turut pula delegasi-delegasi dari sektor bisnis, selaku pihak yang berkegiatan dalam dunia bisnis andil dalam pembentukan kebijakan kerjasama ini. Lalu bagaimana dengan masyarakat dalam negara itu sendiri. Tentulah berperan serta dalam laju perekonomiaan bangsa itu sendiri.

 Masyarakat menengah juga turut mewarnai dunia ekonomi Indonesia. Sering pula dipublikasikan oleh media sebagai bahan inspirasi untuk masyarakat mengenai para wirausaha mandiri yang mengekspor produk-produk mereka ke berbagai negara, salah satunya produk kerajinan tangan.

Sebagai masyarakat Indonesia, perlu kita memperluas wawasan kita dan ‘melek’ akan bangsa ini. Begitu banyak potensi bangsa kita ini, misalnya saja dalam bidang pariwisata, sumber daya alam, dan kebudayaan. Maka dari itu, Indonesia memiliki potensi yang besar sebagai negara pengekspor.

Ketika seluruh lapisan masyarakat turut serta dalam kegiatan bisnis yang dapat mengembangkan perekonomiaan negara, khususnya dalam kegiatan ekspor, tentu hal ini dapat memberikan dampak baik bagi Indonesia. Ditambah keikutsertaan Indonesia sebagai anggota APEC, seharusnya Indonesia lebih mudah dalam penyebaran dan pemasaran produk dalam negeri ke luar negeri.

Tahukah kalian apa penyebab nilai rupiah jatuh? Salah satunya karena peredaran dolar berkurang akibat minimnya kegiatan ekspor. Itu berarti, kegiatan ekspor memiliki andil penting dalam mata uang negara ini. 

Tidak hanya itu, jika dicermati sektor perekomian pun mempengaruhi berbagai aspek negara. Semakin banyak kegiatan bisnis, berupa wirausaha, dilakukan oleh berbagai pihak semakin banyak pula tenaga kerja dibutuhkan. Itu berarti aspek kesejahteraan masyarakat pun meningkat.

Lalu, apakah pembahasan ini hanya berlaku untuk pihak yang bergerak di dunia bisnis saja? Jawabannya adalah tidak. Bagaimana dengan generasi muda. Generasi inilah yang patut diperhitungkan pula keikutsertanya dalam dunia perekonomian negara.

Rasanya terlalu dini ketika membayangkan generasi muda yang dimaksud adalah anak-anak dalam kisaran umur 10 -17 tahun. Generasi muda memiliki pengertian yang luas dengan mencakup berbagai kisaran umur pada fase peralihan anak. Tapi yang dimaksud generasi muda dalam konteks ini yaitu para pemuda di Indonesia.

Jika kita menoleh kebelakang, generasi muda khususnya pemuda, turut menoreh cerita dalam bangsa ini. Pergerakan pemuda dalam memperebutkan kemerdekaan, peristiwa penting di negeri ini pula ketika penurunan rezim pemerintahan dan juga berperan mengharumkan nama Indonesia dengan prestasi-prestasi yang dicetaknya.

Generasi mudalah yang akan menggantikan pemimpin-pemimpin bangsa ini, termasuk yang akan mengisi posisi penting di dunia bisnis Indonesia.

Seharusnya, Indonesia tidak melupakan peranan penting para pemuda termasuk sampai detik ini. maka dari itu tidak ada alasan untuk tidak melibatkan pemuda dalam persoalan ini, yaitu keterlibatan Indonesia dalam APEC dan momen penting Indonesia sebagai tuan rumah pada rangkaian acara rutin APEC 2013.

Pada momen ini, seharusnya pemuda dilibatkan dalam acara APEC 2013. Mungkin, banyak yang berpikir pemuda bukanlah tokoh utama bahkan tidak berperan. Tapi jika kita perhatikan, justru momen APEC 2013 ini dapat dijadikan sebagai pembelajaran pada generasi muda Indonesia. Dimana momen ini sebagai edukasi dan keterbukaan pemikiran generasi muda akan peduli ekonomi. Seharusnya, karakter pemuda yang berenergi, kreatif, dan inovatif dapat memberikan sudut pandang berbeda dan menjadi tambahan masukan mengenai perekonomian bangsa Indonesia.

Tidak hanya sebatas itu, harus adanya program keberlanjutan yang dibentuk oleh pemuda itu sendiri setelah keterlibatannya dalam momen ini.

Pemikiran segar jiwa pemuda dikombinasikan dengan wawasan seusai keterlibatan mereka di APEC 2013 dapat dijadikan bekal awal dalam pengamalan di masyarakat.

Generasi mudalah yang seharusnya turut mendorong masyarakat kecil dan menengah untuk terus berwirausaha dengan ide-ide inovatif mereka sehingga tercipta wirausaha kreatif.

Tidak hanya sebagai pendorong tetapi dari dinilah generasi muda diperkenalkan dan diajarkan menjadi wirausahawan sehingga mereka pun bisa jadi perintis dan memperdayakan masyarakat dalam proses produksi.

Tentu hal tersebut tidak mudah, tapi kita patut optimis dan mencoba. Pastilah mempergerakan banyak pihak akan jauh membawa dampak yang besar dalam ekonomi Indonesia termasuk dengan memulai dari lapisan masyarakat kecil dan menengah dengan dorongan dan peran para pemuda Indonesia itu sendiri.


Harapannya generasi muda dapat menjadi motivator dalam masyarakat Indonesia untuk selalu berkarya dengan berwirausaha dan memiliki motivasi berwirausaha itu sendiri pada diri mereka masing-masing. Dan pada ujungnya, seiring perkembangan usaha bisnis itu sendiri, diharapkan pula dapat tumbuh berhasil tak hanya di kandang sendiri tapi juga mengaung keluar ke negara-negara tetangga.   

referensi:
www.abacindonesia-society.com
www.amazine.co/24522/apa-itu-apec-fakta-sejarah-informasi-lainnya/
www.setkab.go.id/berita-4219-abac-indonesia-siap-sukseskan-ktt-apec2013-dibali.html

tulisan ini diikutsertakan dalam ABAC writing competition, APEC CEO Summit

Kamis, 25 Juli 2013

Rasanya Nanem Mangrove Pertama Kali Itu Hhmmm

Semenjak pengalaman 2 kali tracking yang bikin aku shock, rasanya kegiatan di alam-alam gitu enggak aku banget, hehehe. lebih ngerasa disiksa, ketimbang menikmati alam. (peace bro!, salam damai untuk pecinta alam)
Ketika di mading terpublikasikan acara "Satu Mangrove Sejuta Harapan", aku enggak langsung bilang "Iya" untuk ikutan.
Tapi, ternyata H-1 aku memutuskan untuk ikutan acara itu. karena apa?

"Mau ikutan nanem mangrove gak?"
"Hmm.. kapan? sama siapa ajah?"
"Besok. banyak nih yang ikutan. ada anu, inu, itu, lalalalala.."
"Wew, gw ikut juga dong"

Yah, maklumlah anak Aquarius -___-, tiba-tiba muncul prinsip "Oh, lo ikutan? gw ikutan juga deh"

Setelah itu baru deh kepikiran, nanem mangrove itu kayak apa sih?

Well, setelah melihat twitpic event masa lampau nanem mangrove, aku berkesimpulan besok itu kita bakalan....
1. ngumpul di kampus
2. perjalanan rame-rame sampe pantai tujuan
3. nanem cantik deh di pinggir pantai, uhuy...

Besok itu adalah misteri. 
enggak ada satupun makhluk tuhan yang tahu seperti apa besok itu.
dan besok itu adalah hari dimana kesotoyanku, praduga-praduga manusia lainnya tentang hari esok itu terbukti ataupun ditempis.

Ternyata, Besok itu adalah 
Eng Ing Eng...


Berasa minum Shocking Soda terus nelen mentos!
Gila! gratis mandi lumpur men >.<
terus pengeringan ekstra alami dari sinar matahari langsung. 
seusainya, dapet bonus terapi kaki (berjalan tanpa alas) di siang hari men.

Dimana lagi dan kapan lagi coba bisa dapet perawatan tubuh alami ini hanya dengan 10ribu.

Hehehe, intinya bukan itu sih. Sebenarnya satu hal yang didapet dari memori ini adalah...

Manusia itu terlalu banyak menuntut, mau ini mau itu, pembangunan dimana-mana. 
Lalu mengeluh, 
"Duh, panas banget!"
"Iiih, hujan mulu."
"Banjir mulu, kayak udah langganan koran, rutin!"

Tahukah kamu? dalam perjalanan penanaman mangrove ini, dibagian pinggir pantai, terdapat tumpukan sampah yang entah asalnya dari mana. tapi intinya bermuara di pantai ini. sampah-sampah itu tersangkut di pohon-pohon magrove kecil yang telah ditanam jauh sebelum kedatangan kami. 

Menanam mangrove itu enggak seberapa, bahkan mungkin gak berarti kalau sekumpulan manusia, yang terdiri dari diri kita sendiri, gak mau membiasakan diri untuk peduli lingkungan.

BUKAN "apa yang sudah lingkungan berikan untuk saya?"
tapi "APA YANG SUDAH SAYA BERIKAN UNTUK LINGKUNGAN?"

Jadi, ubah yuk kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan, atau hal kecil lainnya yang merusak lingkungan. 



Di akhir acara, seorang bapak bernama Pak Masruri, salah satu pengerak penanaman mangrove di pantai mangkang ini, sedikit bercerita di depan kami semua mengenai perjalanan pergerakan penanaman mangrove di pantai ini. 

Ternyata kegiatan ini sering dilakukan oleh berbagai pihak termasuk mahasiswa, pecinta alam. Bahkan perusahaan rokok lebih banyak mendukung kegiatan positif di pantai ini, sedangkan antusias dan dukungan pemerintah akan hal ini malah kurang. Wah, tetap semangat ya Pak!

Oh,iyah! Aku baru sadar di akhir acara, ternyata yang berpartisipasi dalam acara jurusan ini juga diikuti oleh berbagai mahasiswa dari berbagai biro dijurusan. Satu Mangrove Sejuta Harapan ini seolah merangkul teman-teman yang lain, yang enggak hanya "dia lagi dia lagi".


Acara ini bukan milik himpunan, bukan milik salah satu biro jurusan, bukan milik si ketua pelaksana.
Tapi aku merasakan kalau acara ini acara kita semua, satu jurusan :)

Walaupun gak semua mahasiswa di jurusan ikutan sih, tapi merasa terwakilkan ajah sama kehadiran kamu, kamu, kamu, kamu, kamu, yaa..kita semua deh, hehe.. 

WOW, KALIAN HEBAT!!!

sumber foto: 
bagian dokumentasi acara yang di publish di socnet










Selasa, 23 Juli 2013

Manisnya Ukhuwah Itu

Berawal dari ajakan seorang teman untuk bergabung di tim ini, lalu menemukan berbagai anak manusia dengan wataknya masing-masing, dan memperbanyak tinta hitam bercerita di lembar kehidupanku. 

senang, sedih, mengejutkan, penuh keheranan, semua rasa ada bagiaannya di bab masa SMAku. 
Dasar, plagiat permen Nano Nano!!
Tapi kalau dipikir-pikir manis juga.
manis juga ukhuwah ini :p

me with awesome afq

hmmm... kalau kita semua bisa berkumpul lagi,
lalu bernostalgia masa lampau, ketika dulu kita sibuk dengan agenda tim ini,
apa yang akan kita tertawakan bersama ya?

:D