Senin, 11 Juni 2012

Ketika Kejenuhan Itu Datang

Banyak orang yang bermimpi besar tapi sering melupakan untuk mewujudkannya di tengah perjalanan itu. Mungkin karena JENUH? dan akhirnya melupakan step by step to reach that. Apakah aku salah satunya? maybe YES.

Dulu, di suatu hari, memikirkan kelak jadi seorang arsitektur saja rasanya bahagia sekali, pikiranku melayang terbang meraba-raba masa depan sesuai keinginan, bibir pun ikut melengkung ke atas.

Sekarang, terkadang kuliah tak lagi menjadi prioritas, hati kadang menerka-nerka "apa ini pilihan yang tepat?", atau ...
Hari ini kuliah, dosen cuap-cuap di depan kelas, kertas catatan terlentang siap dinodai, tapi pulpen ini tak kunjung menari-nari di atasnya, pikiran ini kosong tak mau tahu, padahal tujuan dasar kuliah itu kan untuk dapet ilmu, bukannya cengo hanya nyetor muka.   

In other side, there are people who struggle to support your education. There are people who struggle to own self in this education, keep stay in this major. And there are people who struggle to declare as student of architecture.


Ayo, semangat!! Baca ini di kala semangatmu mulai mengendor. Ada beberapa kisah yang jika dilihat lebih dekat punya makna dan sebagai tamparan pemicu semangat

Sekarang, bapakku sudah berkepala enam, bisa dibilang bapak sudah tidak muda lagi, ya tua. Aku yakin, seorang bapak itu mencemaskan keluarganya, apalagi anak-anaknya. Untuk bapakku, sekarang ini, mungkin yang beliau cemaskan adalah aku. Karena apa? karena akulah satu-satunya anak terakhir, yang masih membutuhkan biaya pendidikan.

"Bapak sekarang sudah pensiun, nak" itulah kalimat yang beliau ucapkan untuk meyakinkanku jika mengeluarkan uang dengan boros bukanlah tindakan yang seharusnya.

Sempat terkejut, mengetahui bapak yang sekarang ada di Medan. Dulu bapak memang gemar ke Medan atas nama kantor, tapi itu dulu. Sekarang, ke Medan atas nama kantor? Padahal, tanpa beliau mengeluh saja, aku bisa melihat keluhan fisik beliau.

Itulah perjuangan seorang bapak untuk anaknya.

Di lain kisah, ada seorang gadis yang satu jurusan denganku. Arsitektur memang bukan pilihan pertamnya, pilihan kedua dari anjuran ayahnya. Hebatnya, dia menjalani jurusan di sini dengan ikhlas ;) .

Padahal tidak selalu "mulus" bersamanya ketika menyelesaikan tugas dan "kemulusan"  itu tidak semulus teman-temannya yang lain , terkadang dibutuhkan pula pengertian dari pengajar. Karena apa? Karena Allah memilihnya untuk jadi orang yang luar biasa.

Aku teringat akan kisahnya, suatu hari dia bercerita, "waktu itu tanganku susah digerakin. Aku coba menghubungi pak Malik deh, 'Pak, maaf saya belom bisa menyelesaikan tugas dari bapak, bla bla bla' Untungnya pak Malik pengertian"

Lalu, di akhir ceritanya,
" Ya, Allah! Nada masih mau jadi arsitek, Nada masih mau jadi arsitek." batinnya dalam hati waktu itu.

Itulah perjuangan seorang Nada untuk mempertahankan mimpinya, mencapai cita-citanya, "sarjana arsitektur".

Di luar sana, ada temanku yang sekarang sedang berjuang untuk ikut SNMPTN kedua kalinya, dengan pilihan pertamanya arsitektur.

"Iya, Ngi. Aku mau coba lagi. Arsitektur emang cita-cita gue sejak SMP"

"Wah, sama dong, Njar. Arsitektur juga cita-citaku sejak SMP"

tapi....

Begitulah kurang lebihnya, sepotong cerita dari percakapanku di chatting dengannya.

Itulah perjuangan seorang Njar untuk memijak langkah awal cita-citanya, di kala aku telah mendapatkan pijakan awal tersebut.

Hei kamu!
Iya, kamu, yang aku maksud kamu.
 Di kala kau malas, coba baca ketiga cerita ini, resapi dan syukuri keadaanmu sekarang!

Hei, sadar!! Dengan alasan apa kau malas di tengah orang-orang yang sedang berjuang?

NOTE: itulah kisah-kisah penampar kemalasanku (semoga dapat mendepak kemalasanmu juga, hahaha) yang kudapati dari perjalananku menuju cita-cita. Aku yakin ada tiga kisah perjuangan versi yang lainnya, iyah, versimu yang kamu temukan dari perjalananmu menujuj cita-citamu.