Jumat, 06 Januari 2012

So, Sekarang?


Sekarang  ngerti deh kenapa liburan semasa sekolah dulu hanya 2 minggu dan liburan masa kuliah bisa sampe 2 bulan lebih. Dengan ini, gw memahami kalau libur 2 minggu di masa lampau udah cukup untuk me-refresh otak gw.Walaupun waktu masa-masa sekolah,2 minggu itu kurang, rasanya. Tapi jangan-jangan keinginan libur lebih itu cuma nafsu sesaat ajah dan sebatas kebiasaan manusia yang doyannya ngeluh sama apa yang dia punya.

“kenapa liburnya 2 minggu sih? Kenapa enggak 3 minggu ajah.”

Kalaupun pada waktu itu liburan sekolah 3 minggu, pada akhirnya, “Jhhaa, kenapa liburnya 3 minggu doang sih? Kenapa enggak 4 minggu.”  #sotoy

Gitu ajah seterusnya ampe,”kenapa enggak libur selamanya ajah si?” Hem, lebay tingkat akut. Enggak segitunya juga kali yah.

 Liburan yang lebih dari 2 minggu itu (untuk gw pribadi) membuat gw bosen, enggak tau juga mau ngapain selama ini. Beda lagi kali yah, kalau gw ada project selama liburan. Dan sayangnya gw enggak ada project. #curhat dikit yah,hehe

Terkadang, manusia itu untuk memahami suatu kejadian harus melampaui masa itu dan membandingkan sama kejadian yang sekarang  lagi dihadapi. Setuju? Hmmm.. curiga, jangan-jangan gw doang lagi yang berpikiran seperti ini. “Whaduh!!,” pikir gw 

Dan suatu hari nanti, setelah liburan usai, gw baru memahami liburan 2 bulan lebih itu sangat berarti untuk para mahasiswa. Wah, enggak asik juga ya, kalo kebiasaan ini terus berlanjut. Kita jadi enggak bisa menikmati hari ini. 

“apa harus kita melewati hari ini dulu, baru bisa menyadari betapa berharganya waktu yang udah kita buang sia-sia kemaren itu?”

Bukan maksud mau mengurui, karena masalah yang satu ini ajah gw masih butuh berguru. Cuma ngajak merenung ajah.
Sekarang yang jadi pertanyaan bukanlah, “maksud liburan 2 bulan lebih itu untuk apa?”
Tapi, “liburan 2 bulan lebih ini gw harus apa?”

Sebuah Kokologi

Sedang mencari jati diri?
Ingin lebih mengenali diri lo?
Sebentar, gw mau menawarkan sesuatu. Namanya kokology(plis dong di-bold!), berasal dari bahasa Jepang yang merupakan permainan psikologi buat lebih tau potensi diri kita. Pernah denger?
Cara mainnya gampang, ini simak:
-          Jawab tuh pertanyaan, biasanya pilihan
-          Pilih jawabannya yang muncul di kepala lo, no ragu, apalagi mikir ulang jawabannya
-          Nih game menggunakan kejujuran diri lo
-          Dan jangan baca jawabannya lebih awal
Let’s play-lah!
Bayangkan diri Anda sedang berjalan-jalan menyusuri kota.hari itu sangat indah. Anda sedang berangan-angan. Anda berbelok ke arah jalan yang tidak pernah dilewati sebelumnya. Selagi berjalan, Anda melewati rumah yang indah di seberang jalan. Anda berhenti sejenak untuk mengagumi rumah yang indah itu dan memperhatikan pintunya terbuka setengah. Mengapa pintu itu sedikit terbuka?
1.       Rumah itu dirampok
2.       Pemiliknya lupa mengunci
3.       Pemiliknya berada di dalam, sedang menyapu pintu masuk
What’s your answer? I give you the time to answer.... yup, the time is up.
Nih, maksud dari pilihan lo, here there are!! Pilih nomor berapa yah?
1.       Anda cepat mengambil anggapan terburuk di setiap situasi. Sifat ini terlihat sebagai bukti yang jelas ketika ternyata benar-benar terjadi sesuatu. Anda tidak pernah bingung dalam menghadapi saat” genting, tapi hanya terlalu sibuk karena panik. Jadi lain kali jika bencana datang, miliki pikiran jernih. Ingatlah selalu untuk terlebih dahulu mengambil napas panjang dan menghitung sampai sepuluh. Baru Anda boleh pingsan.

2.       Anda bukan tipe orang yang terhanyut dalam situasi genting. Sebaliknya, Anda sangat santai, bahkan tidak memperhatikan situasi genting muncul. Kesalahan yang Anda buat lebih banyak disebabkan kelalaian, bukannya maksud yang buruk. Tapi hasil akhirnya bagi Anda (dan orang lain) adalah sama.


3.        Anda mungkin nampak seperti orang yang santai. Tapi tidak pernah membiarkan diri lengah. Memiliki kesiagaan konstan seperti itulah yang membuat diri Anda menjadi dewasa seperti sekarang. Tentu saja jangan memperlihatkannya ke seluruh dunia.
Nah,kan ketawan!  Sekarang  pada ngangguk-ngangguk. (sok tau lu penulis!)
FYI: untuk kokologinya dikutip dari buku terlaris fenomenal di Jepang, kokology 2, Tadahiko Nagao dan Isamu Saito